Hari Pertama Ketua FLP Aceh
Maka terpilihlah saya, setelah terpilih dan mau berpidato kemenangan tapi ternyata disuruh duduk lagi untuk dibahas lagi apa terpilih apa tidak, maka saya keluar bersama calon ketua yang tidak bersedia Nita.
Saat masuk lagi dan terpilih saya seperti merasa lega dan sedikit beban di pikiran saya berkurang, kenapa? Saya tak tahu jua. FLP yang saya tahu adalah FLP yang keren, dulu walaupun dengan orang-orang hebat beberapa, tapi berhasil ‘menyihir’ saya bergabung ke sini karena pria-pria yang juga wanitanya baik budi dan berakhlak mulia.
Tak banyak karya mereka yang saya baca sebenarnya. Hanya Pesantren Impian, yang saya tertarik karena saya di dunia pesantren enam tahun, lalu karya Kang Abik dan beberapa karya lain yang terpaksa saya baca saat berkegiatan di antara deretan buku yang Rumcay punya, yang dulu rasanya ingin berlama-lama di sana dan melahap semua bukunya seperti Venom melahap kepala penjahat yang mencoba mencuri uang di Indomaret di akhir film Venom yang barusan keluar di torrent. Film yang kecewa saya, karena tak ada Spidermannya.
Sudah dua tahun lalu saya digadang-gadangkan oleh teman-teman untuk menjadi ketua FLP Wilayah Aceh, padahal siapalah saya ini, hanya remah-remah rengginang dan bukanlah penulis hebat yang punya banyak karya.
Saya menulis buku Sudah Kubilang Jangan Jadi Guru (SKJJG) hanya karena berani saja. Dulu saya pikir membuat buku itu susah, rupanya iya! Buku yang bagus harus di edit professional dan butuh waktu lama. Tapi ada 20 cerita tematis, sudah kita bisa ajukan ke penerbit, tak mau diterbitkan? Kita terbitkan sendiri dengan penerbit indie, walaupun indie harus nyebrang pulau dan ketemu Aamir Khan.
Yang kami inginkan adalah mengembalikan kejayaan FLP di masa lampau, atau menjadikan FLP Lebih baik di masa depan, makanya saya menjadi tumbal karena kawan-kawan yang muda berbakat ini sayalah yang dijadikan tumpuan harapan juga harus disokong dengan ide dan aksi, jangan ditumpu-tumpu saja, emangnya saya peralatan dapur.
Besar harapan kami menjadikan FLP sebagai bagian dari tegaknya tonggak Literasi Aceh yang berkeadaban. Tapi kita harus kerja keras ini, karena indek pembaca Indonesia adalah yang ke 60-70 dunia, penulis Indonesia tak sampai 0,9% jumlah penduduk.
Maka tantangan dua tahun depan kita harus hadapi dengan berkerjasama dengan berbagai pihak yang peduli pada literasi generasi dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ataupun pembanyakan karya yang bermanfaat bagi FLP khususnya dan bermanfaat bagi masyarakat umumnya.
Semoga kita berjaya seperti yang kita cita-citatakan. Mohon bantuanya dari semuanya, saya hanya Ingin anak Aceh lebih pintar dan bangsa Aceh lebih maju, dan pemimpin ke depan literasinya baik.
Leave Hari Pertama Ketua FLP Aceh to:
Read more #indonesia posts
Best Posts From R10
We have not curated any of riodejaksiuroe's posts yet. But you can encourage our curation team to review posts by visiting them regularly and by referring other readers. Because we give priority to frequently read content.
More Posts From R10
- Hotel Mumbai 2018; Reka Ulang Aksi Teror Paling Mengerikan di India
- Booksmart 2019, Hidup Selalu Belajar itu Membosankan?
- The Professor 2019; Kisah Profesor yang Telat Gila
- We Are What We Write
- 30 Hari Bercerita Day #2: Papi
- Apa Vaedahnya Kita Liburan?
- Mengenang Tsunami, Anak Pidie Kreatif Tega Membaca Puisi
- Travel With Me #20; Tiga Hari di Medan, Bagaimana Rasanya?
- Day #2 Rio Flp Aceh: Masuk Koran Bukan lagi Hayalan
- Hari Pertama Ketua FLP Aceh